Cart 0 x

Kenapa Banyak Makanan Jogja Rasanya Manis? Ternyata Bukan Kebetulan

Kenapa Banyak Makanan Jogja Rasanya Manis? Ternyata Bukan Kebetulan

Yogyakarta dikenal sbagai kota budaya, kota pelajar, dan juga kota wisata yang menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Bagi beberapa orang, Jogja adalah simbol romansa yang dapat menyebarkan rasa rindu untuk selalu datang lagi ke kota yang Istimewa ini. Tapi bagi sebagain orang yang baru pertama kali datang ke Jogja, ada satu hal yang mencolok dan tak jarang menjadi buah bibir: Makanan di Jogja itu manis.

Mulai dari makanan ringan seperti Bakpia hingga makanan berat seperti Gudeg dan Baceman. Namun, rasa manis ini justru menjari ciri khas yang paling diingat oleh wisatawan. Namun pertanyaannya adalah, mengapa makanan di Jogja cenderung memiliki rasa manis?

Rasa manis pada makanan Jogja itu adalah cerminan filosofi masyarakat jawa yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan. Mengutip dari IDN Times, Bagi orang Jawa, manis sering menjadi simbol kenikmatan dan kebahagiaan. Dalam tradisi keraton, makanan manis sering disajikan sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur.

Filosofi ini berbanding lurus dengan sifat dan karakteristik orang jawa yang cenderung halus dan selalu mengutamakan “tata krama” dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Selain itu, masyarakat Jawa juga percaya bahwa makanan yang manis bisa membawa suasana hati yang lebih baik.

Selain adanya faktor filosofi, ada juga faktor sejarah yang memengaruhi manisnya masakan Jogja. Mengutip dari Mojok.co, pada medio 1890 saat Belanda masih menjajah Indonesia, Gubernur Jenderal Van den Bosch memberlakukan sistem tanam paksa kepada rakyat pribumi nusantara yang bertujuan untuk mengisi kekosongan kas pemerintah kolonial Belanda yang sedang tidak baik-baik saja.

Saat itu, setiap daerah dipaksa menanam tanaman yang berbeda-beda seperti di Jawa Barat yang menanam Teh, sedangkan Jawa Tengah dan Jawa Timur dipaksa untuk menanam tebu. Selain melakukan penanaman paksa di lahan pribumi, Belanda juga mempekerjakan sebanyak satu juta petani dan 60 ribu buruh pabrik. Akibat sistem tanam paksa tersebut, rakyat pribumi di daerah Jawa mengalami kelaparan. Sebab, sudah tidak ada lagi lahan yang bisa digunakan untuk menghasilkan bahan pokok makanan.

Masyarakat pribumi kala itu bertahan hidup hanya mengandalkan tebu yang menjadi bahan pokok untuk aneka makanan. Pada saat itu juga banyak rakyat berusaha membuat makanan yang tahan lama seperti Gudeg dan juga metode Bacem.

Namun, apakah semua makanan Jogja selalu manis? Tidak juga. Label “makanan Jogja itu manis semua” sebenarnya muncul karena makanan-makanan manis lebih sering dipromosikan dan dijadikan ikon wisata.

Padahal jika mau mengkesplor Jogja lebih luas dan lebih dalam, kota ini juga punya banyak makanan yang gurih bahkan pedas seperti Oseng Mercon yang memiliki rasa cenderung pedas karena menggunakan cabai dan dipadukan dengan daging sapi, sanding lamur, atau daging ayam. Selain itu, ada juga Sate Klathak yang memiliki rasa dominan gurih-asin yang dibakar menggunakan bumbu dasar air garam. Ada juga olahan mangut, brongkos, sampai rica-rica di warung lokal membuktikan bahwa lidah Jogja itu memiliki cita rasa yang beragam.

Jadi, banyaknya makanan Jogja yang memiliki rasa manis itu adalah hasil perpaduan dari filosofi hidup orang jawa dan keterbatasan sumber daya saat zaman penjajahan Belanda. Namun, menyimpulkan makanan Jogja itu selalu manis terasa kurang adil karena faktanya masih ada banyak makanan yang memiliki cita rasa pedas dan gurih. Satu hal yang pasti, Jogja itu bukan soal satu rasa. Manis memang ikonik, tapi di balik itu ada gurih, pedas, dan rasa-rasa lain yang menunggu untuk ditemukan. Tinggal seberapa jauh kita mau menjelajah kota yang Istimewa ini. (Rn)